Inilah Alasan Untuk Tidak Perduli (yang 'Terlalu Berisik')

Suatu siang di ruang duduk belakang, aku sedang ‘entah ngapain’ duduk di kursi.  Sementara jarak beberapa kursi ada beliau.  Duduk santai bersandar, kedua kaki diangkat menekuk lututnya hingga seakan sejajar dengan bahunya.  Dengan kacamata, beliau menekuri satu bendel kertas ukuran A5 dengan serius.  Tak berapa lama.

“Kiye tulisan kaya kiye (mengeja beberapa huruf), macane kaya kiye (melafalkan satu kata), bener ora?” tanya beliau.
“Nggih, leres. Badhe ngge napa sih?” tanyaku.
“Lha kan ngesuk arep khotbah raya ya, nah…nah…nek kiye (mengeja kata lagi) bener mbok?” kata beliau.


Aku tahu terkadang beliau memang serius bertanya, tapi terkadang pula belau hanya sekedar membuka obrolan sembari bercanda.


Tapi soal mempelajari bahan saat beliau hendak berbicara didepan umum, entah itu khotbah Jumat, khotbah Hari Raya atau ceramah rutin, itu sudah pasti dilakukan. Meski aktivitas pidato tersebut sudah menjadi rutinitas layaknya ‘makanan pokok’ selama bertahun-tahun.


Itu menjadi pemandanganku sehari-hari juga, beliau dan membaca.  Dan siang itu obrolan kami mengasyikkan.


Namun, memang segala hal yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi.  Dan hadirnya perubahan tidak selalu bisa diprediksi kapan dan berupa apa.  Demikian pula yang terjadi keesokan harinya.


Pagi itu aku sudah berangkat ke lokasi khotbah.  Mendapat tempat duduk yang nyaman, duduk takzim sambil bertakbir.  Tak berapa lama, kulihat sosok beliau berjalan.  Biasa dengan koko panjang yang warnanya aku lupa dan memakai sarung. Tampak pula sajadah yang terlipat rapi memanjang tersampir di bahunya.  Aku yakin beliau juga harum, karena minyak wangi sama wajibnya dengan ibadah.


Sekitar tiga meter sebelum beliau sampai di pojokan jalan, yang berjarak 10 meter dari lokasi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam ruangan.  Lewat pengeras suara berbunyi penanda bahwa acara akan segera dimulai.  Tapi, beliau belum sampai di lokasi, bagaimana bisa penanda terlebih dahulu?
Bukan hanya aku yang bingung.  Kudengar sekeliling pun mulai berbisik-bisik resah.  Hatiku terkesiap, kulihat beliau memutar langkah.  Beliau berbalik pulang.  


Kujalankan sisa pelaksanaan ibadah raya dengan hati tidak nyaman.  Kuharap Tuhan memaafkanku.  Setelah selesai, dengan langkah cepat langsung berjalan pulang.  Penasaran, bagaimana keadaan beliau.


Rumah tampak hening, kubuka pintu depan.  Tak perlu butuh waktu lama untuk mencari beliau.  Beliau ada di kursi ruang tamu, di kursi favoritnya, posisi pojok.  Lupa pastinya, kurasa beliau membaca buku.  Aku datang.  Beliau hanya mengangkat matanya sejenak tanda menyatakan selamat datang. 


Sekilas kulihat, matanya sedikit merah.  Menangis?  Bisa jadi.  Tanda apa? Entah, tapi bukan sesuatu yang baik.

Hari itu, Hari Raya, tapi seisi rumah tidak terlalu bersuka-cita.  Meski simpati khalayak cukup berdatangan. Meski hidangan segala rupa ala kadarnya juga tersedia.  Kebahagiaan usai kewajiban ‘tidak sarapan’ selama 1 bulan pun seakan tidak membuat perut meronta-ronta terus minta diisi. 


Hari itu, Hari Raya, yang pasti itulah kali terakhir langkahnya untuk berkhotbah.    


Hari ini mungkin ingatan (yang boleh kusebut) luka itu sudah memudar.  Hubungan beliau dengan satu dua orang yang terlibat pun sudah cukup baik (Aamiin).  Tapi, sepertinya bekasnya masih terasa.
Aku yang pelupa masih penasaran dengan ‘kapan’ tepatnya kejadian itu bertanya pada beliau.
“Kapan?”
“Lah…mbuh…kelalen.” jawab beliau.


Sesimpel itu, dan dengan mimik yang biasa saja. Ku tahu, itu cara beliau bertahan dari segala permadalahan. Memendam sendiri dalam sedikit kata-kata.




Siapapun bebas membuat kesimpulan atas hal apapun yang pernah dialami.  Untuk kisah ini simpulan saya adalah jangan pernah melihat seseorang dari kulit luanya.  Itu peribahasa umum ya, tapi seratus persen benar.  Karena senyum di wajah, bisa jadi seringai di hati.  Sebaik-baik fisik dan penampilan, tidak menjamin bahwa orang itu pasti baik hati dan perilakunya.   Namun, kuasa Tuhan, lisan yang pintar berdalih selalu tidak mampu menampung perilakunya yang sebenarnya.

Kejadian hari itu membuat saya paham untuk tidak perlu selalu mengikuti arus, meskipun tampaknya banyak orang berada disana.  Keyakinan yang paling benar hanya milik Sang Maha.  Manusia terbaik hanya Yang Terpilih, Sang Baginda SAW yang Maksum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Maka rasanya kurang pas jika sampai menganggap seseorang suci sepenuhnya.  Pun menganggap yang lain kotor seterusnya. Sehingga tidak pas rasanya berisik atas hal demikian.

Wallahu 'alam bishawab, dan hanya Allah swt yang Maha Mengetahui.


Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar