Cara untuk Mengingat Tuhan


Ilustrasi
Sumber: Dokumen pribadi.
Suatu siang di tengah waktu bekerja, aku dan rekan kerja berbincang singkat. Sebelumnya sudah banyak bicara singkat-singkat sih. Bukan perempuan mungkin kalau dalam satu ruang kerja diam-diaman sepanjang hari, kecuali sedang jutek. Sedikit opini saja.

Saat aku sedang fokus menekuri garis-garis AutoCAD di komputer, tiba-tiba rekan kerja memanggil.
"Mbak!"
Sambil menoleh singkat, saya jawab, "Yuhuuu...."
Dengan semangat dan cepat, rekan kerja melontarkan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataannya, "Mbak, ternyata kalau sedang haid gak boleh lupa ya sama Allah, sampeyan piye, mbak?"
"Oh iya ta? Baru denger, mbak. Mmm...," Sebetulnya aku masih berpikir untuk menjawab lagi, tetapi rekan kerja lebih cepat menyela lagi. Ah... maklum ya perempuan. Aku perempuan, tapi kalau soal bicara biasa kalah (mengalah).
"Kalo aku lho mesti lupa, mbak, piye yo carane eling?"
Rekan kerja nampak serius, tapi saat itu aku juga tidak tahu jawabannya apa. Sejujurnya bukan karena semata tak tahu caranya, karena sepanjang waktu justru tidak pernah lupa!

Dan setelah sekian tahun berlalu, kali ini saya ingat lagi tentang pertanyaan itu. Dan sepertinya sekarang sudah tahu jawaban pertanyaan rekan kerja, sekaligus jawaban pertanyaan saya sendiri. Tidak lain adalah dengan dan karena rajin berdialog dengan Tuhan, Sang Esa.

Entah mulai kapan, saya tidak tahu pasti. Namun, satu yang pasti setiap manusia mempunyai masa untuk ingin banyak berbicara, mengungkapkan berbagai macam pendapat tentang sesuatu hal, mempunyai keluh kesah. Alangkah idealnya jika bisa diungkapkan kepada orang lain. Alangkah idealnya jika bisa mengungkapkannya kepada seseorang. Namun, setiap manusia mempunyai keterbatasannya masing-masing. Dulu saya menganggap keterbatasan sebagai sesuatu yang mutlak dibenci, tetapi lambat laun justru itu yang bisa membuat saya menemukan arti hidup yang sesungguhnya.

Entah sejak kapan berbicara dalam hati bukan lagi monolog. Setiap kalimat tidak pernah jauh dengan awalan "Ya Allah". Selalu terjadi dialog dengan-Nya untuk hal apapun, meskipun itu hal sepele dalam pandangan umum. Ya, inilah mungkin yang bisa disebut cara. Apakah bisa dilakukan juga oleh orang lain, sila dicoba.

Kau mungkin sedang sendiri di alam dunia, tetapi sejatinya kau tidak pernah benar-benar sendiri. Letakkkan Allah dihatimu, maka InsyaAllah kesepian tdk akan ada, kegalauan tidak akan lama melekat padamu.

Cerita ini bukan untuk menunjukkan tingkatan kedekatan seseorang dengan Tuhan-nya, karena hakNya yang menilai. Tidak ada lain hanya untuk menunjukkan bahwa menempatkan Tuhan di hati dalam setiap tingkah laku kita adalah upaya terbaik untuk selalu mengingat Sang Maha. Mengingat dalam setiap suka atau duka, sepi atau ramai, benci atau cinta, iri atau bahagia, seharusnya Tuhan selalu ada dimanapun. Karena semua rasa bersumber dari Tuhan dan semua kebaikan juga Dia yang mengadakan, itulah yang menjadi akhir dari setiap tingkah laku kita.

Wallahu A'lam Bishawab, dan hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.

Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar