Yakinlah, Jodoh Pasti Datang!

Foto: pixabay.com
Saat itu usia saya 25 tahun, dan saya single.

Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara yang kesemuanya perempuan.  Soal percintaan, mungkin saya lah yang paling kurang beruntung (pikiran saat itu).  Hingga usia itu, belum sekalipun menjalin hubungan serius dengan seseorang.  Sesekali ada yang nampak suka, tetapi selalu tidak ada jalan untuk berlanjut.
Ketika itu, kakak telah menikah, adik pertama sudah memiliki teman dekat yang cukup serius (adik bungsu masih kecil).  Lelahnya hati untuk mencari siapa kah jodoh sebenarnya, membuat saya memilih pasrah kepada kehendak Yang Maha Kuasa.  Sampai saya pun sudah ikhlas jika nantinya akan “dilangkahi” (istilah bahasa Jawa) oleh adik untuk menikah.
Setelah “masa tenang” dengan kepasrahan dan keikhlasan selama beberapa saat, tiba-tiba datanglah hari dimana saya harus berpikir lagi soal “cinta”.  Sekelumit percakapan dengan Bapak, membuat hati kembali menciut.
Sore itu, saya dan Bapak sedang duduk berdua di ruang tamu.  Seingat saya, ini adalah obrolan pertama kami yang serius, apalagi tentang rasa.  Saya yang sedang menjalani masa vakum setelah selesai satu kontrak pekerjaan dengan sebuah perusahaan kontraktor, berniat untuk meyakinkan Bapak bahwa saya mempunyai banyak rencana untuk melanjutkan masa depan saya (pekerjaan).  Saat itu, saya takut orang tua akan mengira saya hanya berdiam diri tanpa berusaha apa-apa.  Semula saya mengira bahwa dengan menceritakan hal itu Bapak akan tenang, sekaligus bahagia karena cita-cita anaknya tinggi.  Nyatanya itu hanya khayalan saja.
Bapak hanya menjawab “terserah”.  Tak berapa lama dilanjutkan dengan “tapi ya jangan lupa, perempuan itu harus menikah, kenapa?  karena itu adalah kodrat”.  Ya, cukup singkat.  Tapi saya kaget dan sekaligus bingung harus menjawab apa.  Akhirnya hanya mengiyakan saja.  Setelah itu, pelan-pelan saya harus menerima bahwa bukan kegemilangan karir yang diharapkan oleh Bapak selepas beliau tuntas menyekolahkan anak-anaknya hingga gelar sarjana.  Beliau hanya ingin menuntaskan apa yang menjadi kewajibannya sebagai orang tua, yaitu menikahkan anak-anaknya.
Lalu, apa yang saya lakukan setelahnya?  Dalam ketidak-tahuan cara, saya hanya bisa memohon kepadaNya agar dimudahkan segalanya.  Alhamdulillah tanpa perlu merasa lelah menunggu lagi dan tanpa disangka-sangka pula, Si (calon) Jodoh muncul sendiri.  Mungkin inilah yang dinamakan jodoh, segala hal dimudahkan.  Hampir satu tahun berusaha saling mengenal, akhirnya Si Jodoh resmi melamar.

Usia 26 tahun, saya menikah, Alhamdulillah.

Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar