Makna Dibalik Sebuah Panci Gosong

Foto: dokumen pribadi.
Apa yang kamu pikirkan saat melihat sebuah panci gosong di sebuah dapur yang tampak tak bercela? Mungkin yang terlintas di benakmu adalah sang empunya malas menggosok pancinya sehingga sampai berjelaga. Mungkin pada akhirnya kamu merasa tidak sesuai jika panci tersebut menghiasi dapur yang terlihat cukup bersih.
Mungkin, sebetulnya seperti gambaran melihat panci gosong itulah, yang sedang terjadi di masyarakat kita saat ini. Bukan hanya tentang yang  berpakaian hitam saja, tetapi apapun yang terlihat "berbeda" dengan diri sendiri atau golongan tertentu. Merasa cukup melihat dari luarnya saja, kemudian langsung menyimpulkan. Tak jarang yang muncul adalah sebuah prasangka-prasangka yang tak baik.

Entah berhubungan  dengan konspirasi atau jenis apapun tentang teori yang rumit. Sederhananya, manusia lebih mudah berpikir negatif daripada positif. Tidak percaya? Coba saja melihat seorang anak kecil berlari, yang terpikir pertama kali khawatir jatuh atau bagus untuk motoriknya? Jika yang ditanya seorang ibu, pasti jawabannya ada di pilihan pertama, soal ketakutan atau kekhawatiran.

Sebenarnya, panci gosong tidaklah selalu berarti dia kotor dan mengotori sekitarnya. Coba amati sekitarnya, bersih atau tidak, tertata atau tidak. Itu sudah cukup bahwa panci tersebut tidak membawa pengaruh buruk untuk sekelilingnya. Lalu, tengoklah ke dalam isinya. Sebetulnya selalu ada air bersih yang setiap hari diganti. Dipakai untuk sesuatu yang berfaedah, yaitu memasak masakan yang baik dan air mandi anak-anak agar senantiasa segar dan sehat.

Perkara "kok tidak dibersihkan sampai mengkilat bawah panci yang gosong?". Panci itu juga seperti bagian dari perjalanan kehidupan, ada masa dimana penting dan tidak penting adalah relatif bagi setiap orang. Mungkin masa awal memiliki panci adalah saat dimana warna hitam jelaga bukan hal yang utama untuk dipikirkan. Intinya, menjadi hitam atau tidak hari ini selalu ada sebab, dan jika mau merunut hingga tingkat yang paling tinggi, ini disebut takdir.

Menyesal sekarang mempunyai panci gosong? Tidak juga, karena ternyata selalu ada makna positif di setiap hal yang tampak jelek. Googling, ternyata panci gosong membuat proses memasak lebih cepat, karena proses penyerapan panas lebih tinggi. Hari ini dimana gas mahal boleh lah bersyukur bukan? Bolehlah tertawa, hehe...

Finally, hari-hari ini dimana prasangka mudah bertebaran dimana-mana. Merasa lebih baik cukup melihat perkembangannya dari jauh saja. Masih terus yakin, hari kelam seperti ini tidak selamanya, InsyaAllah masih akan datang lagi hari yang lebih tentram, khususnya untuk Indonesiaku.

(Suatu hari aku dan sahabatku yang nun jauh disana, bertukar foto rumah masing-masing. Saat sampai di foto dapurku, komentar pertamanya adalah "ih kok pancine item 😆". Sebetulnya biasa saja juga bisa. Tetapi entah karena aku yang memang baperan, atau karena kaget tidak menyangka yang dikomentarin adalah panci, langsung merasa menjadi 'yang tertuduh' dan otomatis berusaha membela diri. Alhamdulillah ternyata memunculkan ide menulis tentang situasi hari-hari ini.
Terima kasih buat Bu PNS di Batang, i love you...😘😘 Sepertinya panci di rumahmu mengkilat semuanya ya, xixi...)

Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar