'Kabur', Solusi Menghilangkan Kepenatan

Foto: pixabay.com
Latepost...
Kemarin adalah perdana saya melakukan sebuah hal yang sudah lama tidak dilakukan, yaitu 'kabur'. Hehe...bukan minggat dalam arti yang sebenarnya, hanya sejenak pergi sekehendak hati untuk membuang penat.
Seorang ibu dengan dua anak kecil yang sedang aktif-aktifnya, Alhamdulillah sebetulnya karena tanda mereka sehat dan normal.  Suami yang beban pekerjaannya sedang cukup menyita waktu, Alhamdulillah juga sebetulnya karena itu berarti suami mempunyai daya guna untuk orang lain dan juga menambah rejeki untuk keluarga kami. Dan saya dengan passion dan mimpi-mimpi pribadi yang belum terlaksana dengan baik. Yah...baiklah, mungkin penat berawal dari diri saya sendiri.

Jika saya lebih sabar, mungkin anak-anak yang mulanya hanya bercanda, tidak diricuhi dengan teriakan ibunya yang menyuruh mereka diam, karena hasil akhirnya justru anak-anak jadi bertengkar dan menangis. Suami? Selain weekend dia hanya terima laporan untuk kejadian-kejadian seperti ini. So, dari awal hingga akhir, ibu yang harus meng-handle.
Pikiran ibu yang multitasking dengan keriuhan anak-anak sepanjang hari, rasanya pas jika suatu saat ibu melambaikan "bendera putih" alias menyerah.

Sebelumnya, saya cukup mendengarkan musik untuk membuat semangat kembali. Tetapi, kali ini saya memutuskan untuk 'kabur'.

Pagi itu, mas Azri sudah siap dengan seragam sekolahnya. Memang waktu sudah mepet sekali dengan jam masuk kelasnya, jam 8 tepat. Saya memang sejak pagi sudah uring-uringan, yah...barangkali memang akumulasi dari beberapa hari sebelumnya yang badmood. Mas Azri mulai bertingkah, yang ngantuk lah, yang tidak mau kaos kaki yang saya pilihkan, dan lain-lain. Adiknya, Haniya yang semula tenang, kena juga ulah mas Azri dan ibu, jadinya ikut rewel. Sudah gerimis rintik-rintik, waktu mepet, dan 'ramai'.
Akhirnya di detik terakhir saya memutuskan untuk 'kabur'. Tanpa mengganti seragam mas Azri, langsung saya pakaikan jaket. Dan 'lets go'. Haniya sudah siap.

Yang berbeda dengan 'kabur' kali ini adalah saya sudah bisa mengendarai motor. Dan kedua saya membawa serta anak-anak. Pikiran saya hanya ingin pergi ke tempat yang melegakan, entah outdoor atau bangunan besar.
Meski gerimis kecil, cukup yakin lah membawa duo krucils, karena kepala terlindungi oleh helm dan badan oleh jaket.

Cuzzz...pilihan pertama tanpa pikir panjang motor saya belokkan ke area Masjid Islamic Center yang termasuk bangunan baru di kota Indramayu. Meski belum sempurna kondisinya, tetapi cukup mengasyikkan berkeliling disana. Mas Azri dan Haniya sempat dihalau petugas keamanan karena menginjak rumput sintesis yang seharusnya belum boleh disentuh. Membuat Haniya terpeleset dengan kepala terbentur lantai, Alhamdulillah tidak apa-apa, kembali bisa bersenang-senang.

Di Masjid Islamic Center, Indramayu
Foto: koleksi pribadi

Setelah puas berkeliling, dalam pikiran saya baru mulai muncul planning tujuan selanjutnya. Disamping mulai sadar dan mengikhlaskan saja hari itu menjadi hari bebas untuk mas Azri.
Saya juga berjanji pada diri sendiri untuk melepaskan beban, sabar, sabar, sabar lagi.

Lanjut, setelah itu kami pergi ke toko kue Amanda, setelah sebelumnya mengambil sisa rupiah terakhir di ATM. Mas Azri sempat request ke alun-alun, saya lalu berpikir untuk membeli bekal dulu. Toko Amanda juga adalah toko baru yang belum pernah kami kunjungi, jadi menarik.
Selanjutnya, saya memarkirkan motor di alun-alun, area Taman Kulcim. Anak-anak cukup senang bermain panjat2 tebing (tanggul sih sebetulnya). Kemudian lari-larian dan makan kue.
Di Taman Kulcim, Indramayu
Foto: koleksi pribadi

Sebetulnya selepas dari sana, saya berniat mengajak pulang, tetapi rupanya mas azri masih belum puas. Nah, untuk mas Azri rupanya acara 'kabur' ini belum banyak memberikan arti positif untuk suasana hatinya, tidak apa-apalah, kan yang penting saya, ibunya. Akhirnya, saya mengajak mereka ke perpustakaan. Mereka menyambut gembira. Jujur, jika mengingat acara 'kabur' saya sebelum menikah, perpustakaan adalah tujuan saya untuk melepaskan kepenatan. Sekarang ini menjadi alternatif ke sekian. Lantaran sudah bisa mengendarai motor dan menjadi seorang ibu. Cukup membuat mata berkaca-kaca.

Tidak ada yang tidak biasa dengan kunjungan ke perpustakaan karena kami sudah sering ke tempat itu. Sejam kemudian, kami akhirnya pulang ke rumah.

Demikianlah pengalaman 'kabur' yang saya lakukan, pertama kali setelah menjadi seorang ibu. Tidak semua perempuan bisa dengan mudah menjadi ibu yang selalu lembut dan penyabar.

Ada kalanya, merasakan frustasi atau stress yang mungkin tidak cukup hanya dengan diam, menangis atau marah-marah. Keluar sejenak dari 'rel', bisa sedikit menyegarkan untuk selanjutnya beraktivitas seperti sediakala. Selain, mengingatkan kita untuk kembali mensyukuri kehidupan yang telah Tuhan berikan.

Najiyyatul Ummah

4 komentar:

  1. Wah kita sama ya Bun. Mungkin hampir semua yang namanya emak-emak pernah ngerasain dan rentan dengan rasa penat. Bener kali-kali kita kabur, ga apa-apalah. Yang penting emak punya waktu utk me time biar ttp waras wkwwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. demi kewarasan ya, bun, bener banget,hehe...

      Hapus
  2. semua orang pasti pernah ngalamin hal semcam ini yaitu penat dan bosan, jadi perlu refreshing sejenak biar penat ilang

    BalasHapus