Mengapa Hidup Selalu Sulit?

Foto: pixabay.com
Tersebutlah sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan seorang anaknya. Sebetulnya mereka hidup normal layaknya keluarga yang lain. Jika ada yang berbeda hanyalah mereka merasa tidak penting mengeluarkan sejumlah uang untuk kepentingan bersama warga lain. Padahal hal tersebut adalah kesepakatan seluruh warga, yaitu untuk membayar petugas kebersihan dan keamanan lingkungan.

Entah apa yang membuat mereka berpikir demikian, meski jelas jika mereka juga menggunakan fasilitas umum yang ada. Padahal jumlah sumbangan itu tak seberapa banyak, rasanya tidak sebanding dengan pengeluaran mereka untuk makan dalam jangka waktu yang sama.

Setiap kali datang penarik sumbangan, mereka menerimanya dengan wajah bersungut-sungut bahkan sesekali mengeluarkan ucapan yang ketus. Tidak heran, jika para petugas itu selalu berwajah pias dan tertekuk saat hendak dan setelah mengunjungi rumah mereka. Tidak dapat uangnya, caci makinya iya, begitu mungkin batinnya.
Semula itu hanya sekedar cerita saja. Hingga suatu saat terjadi sebuah tautan dengan kehidupan keluarga tersebut.
Suatu kali, ada seseorang yang berniat memberikan sesuatu kepada mereka. Ketika itu, ternyata mereka sedang tidak di rumah. Padahal biasanya jarang bepergian. Karena makanan kering, sempat disisihkan dulu beberapa hari barangkali mereka datang. Namun rupanya sampai batas waktu tidak pulang. Jadilah rejeki milik orang lain.
Selang beberapa waktu, hadir kesempatan lagi untuk berbagi. Kembali, saat seseorang itu sampai dirumahnya, mereka pun tidak di rumah. Beruntungnya, tidak berapa lama, terlihat kedatangan mereka di rumahnya. Akhirnya tertunaikanlah hajatnya untuk berbagi dengan mereka.
Tetapi ada yang perlu diketahui, bahwa bagian mereka sebetulnya sudah berkurang setengahnya. Karena dalam jangka waktu yang singkat, seseorang itu berpikir untuk memberikan separuh bagiannya kepada orang lain lantaran takut mubazir. Siapa sangka yang direncanakan pulang lebih cepat.
Setelah kisah yang kedua ini lah, muncul sebuah makna.
Tidak ada yang salah dengan maksud berbagi kebaikan dengan mereka. Tapi, kenapa sampai di keluarga tersebut menjadi lain? Sekali nol, artinya keluarga tersebut tidak mendapatkan apapun. Kedua, hanya separuh lebih sedikit dari orang lain.
Bukankah itu sudah memberikan sebuah makna?
Ya, bisa jadi sebuah perbuatan menghalangi datangnya sebuah rejeki. Bisa jadi pula, inilah yang dimaksud rejeki memang hak semata-mata dari Sang Maha. Bahkan rencana baik seseorang pun bisa kalah karena orang yang dituju memiliki beberapa keburukan.
Artinya, berhati-hatilah dalam melakukan perbuatan, sekecil apapun keburukan pasti membawa sebuah akibat. Mungkin perlu sedikit perenungan untuk bisa menemukannya.
Wallohu'alam.


Link: tz.ucweb.com/1_4EOh9

Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar