Cara Pertahankan Hati Nurani yang Baik

Foto: pixabay.com
Jika kita meyakini bahwa manusia yang paling suci (ma'sum) hanya Baginda Rasul SAW dan para Nabiyullah, seharusnya kita pun meyakini bahwa manusia itu tidak ada yang baik murni, tidak pula jahat murni.
Tidakkah muncul rasa setitik nelangsa saat melihat seorang tersangka kasus kriminal?Seorang menteri yang dianggap paham agama, dihari tua tertangkap karena kasus uang yang tak jelas. Seorang anak remaja yang dihakimi massa karena menjambret. Seorang ibu membunuh anaknya. Seorang suami membunuh istrinya karena sakit hati. Dan masih banyak lainnya.

Hukum sudah pasti harus ditegakkan atas perbuatan jahatnya. Tapi tidak semena-mena, main hajar. Sulit memang untuk tidak gemas menyaksikan perbuatan-perbuatan jahat yang kadang di luar nalar kita. Itulah manusiawi.
Tetapi cobalah ingat tentang:
1. Bahwa semua manusia pernah punya masa jujur, saat kita lahir hingga masa emasnya.
2. ‎Bahwa apa yang terjadi di masa sekarang selalu ada kaitannya dengan masa lalu.
3. ‎Bahwa Sang Maha sudah menetapkan ada dua jenis pembalasan atas kejahatan manusia, di alam dunia dan di akhirat nanti.
Jadi, masih perlukah menghakimi perbuatan jahat seseorang hingga sedemikian rupa, di luar wewenangnya? Mengotori tangan dan hati untuk mengeksekusi perbuatan kejahatan seseorang.
Meski sekarang adalah jaman now, yang dianggap jaman yang sudah serba carut marut. Jaman menuju penghujung akhir. Tetapi Sang Maha sebetulnya sudah memformulasikan penawarnya. Ilmu parenting, ilmu psikologi, ilmu kesehatan, ilmu logika, dan yang paling utama ilmu agama, semua dimudahkan untuk diakses oleh semua orang. Tidak seperti jaman dulu yang lebih banyak menduga-duga, bahkan hingga bermunculan mitos-mitos yang membuat takut jika melanggarnya.
Semua solusi atas segala permasalahan sudah tersaji di depan mata.
Pertanyaannya hanya satu, sudahkah kita membuka mata untuk melihatnya? Lalu, dapatkah hati kita menerimanya?
Kuncinya pada jawaban masing-masing, kesadaran tentang untuk apa kita (manusia) diciptakan oleh Sang Maha. Dan kembali tergantung kepada pandangan terhadap tiga hal di atas.
Jadi, jika kita meyakini bahwa manusia yang paling suci (ma'sum) hanya Baginda Rasul SAW dan para Nabiyullah, seharusnya kita tidak perlu bukan menjadi hakim atas kejahatan orang di luar wewenang kita?

Link: tz.ucweb.com/1_2DLY5

Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar