Cara Mengatasi Mabok Perjalanan pada Anak

Foto: Pixabay.com
Moms, apakah anak Anda sering rewel atau menolak jika diajak bepergian?  Mungkin salah satu sebabnya adalah pernah merasakan ketidaknyamanan saat di kendaraan, seperti mual atau pusing.  Istilahnya mabok perjalanan.  Saat kecil, saya juga termasuk mabokers, singkatan tukang mabok perjalanan ya, moms, hehe... 

Saya tahu persis rasanya mabok perjalanan.  Dari mulai tegang sejak diberitahu orang tua akan naik mobil atau bus.  Kemudian semakin pucat saat mulai melihat sosok kendaraan yg akan dinaiki.  Lalu saat mulai menaiki, langsung mual mencium aroma ruangnya.  Sampai sepanjang perjalanan pusing dan mual.  Saat beruntung adalah ketika berhasil sampai di tujuan tanpa muntah.  Dan saat kecil, itu hampir sangat jarang terjadi.  Bisa dibayangkan bukan, moms, rasanya hatiku seperti apa, hehe...


Bersyukur orangtua saya bukan orang yang mudah lelah dengan keadaan anaknya yang seorang mabokers.  Mereka selalu punya agenda rutin bepergian setiap tahunnya, entah acara silaturahim ke rumah orang, piknik atau ziarah ke makam wali.  Saat itu, orangtua hanya mempunyai motor, sehingga alternatif untuk bepergian hanya kendaraan umum saja, baik bus atau mobil.  Kereta belum menjadi moda transportasi pilihan, padahal kereta biasanya lebih nyaman untuk mabokers, karena tidak merasakan lika-liku tikungan yang memusingkan.  Mungkin karena sering bepergian itulah, akhirnya setelah dewasa, mabokers saya sembuh.

Pengalaman menjadi mabokers serta kesembuhannya yang akhirnya menginspirasi saya untuk berbagi tips.  Tips tentang bagaimana cara mengatasi anak yang mabok di perjalanan.  Mungkin mabok perjalanan saat anak masih kecil tidak akan berkepanjangan hingga dewasa, jika ditangani dengan cara yang tepat sedari awal.

Berikut beberapa cara yang bisa Moms lakukan kepada anak Anda.

1.  Berikan sugesti-sugesti positif sejak awal perjalanan, atau saat anak mulai menunjukkan raut muka tidak nyaman.

Beberapa waktu lalu saya pernah melakukannya pada seorang anak kecil yang biasanya pusing di mobil.  Biasanya saat si anak ini mulai rewel di jalan, sekelilingnya selalu menyalahkannya, dari mulai alasan kenapa ikut naik mobil dan lain sebagainya.  Apalagi jika sampai muntah, sudah pasti tambah dimarahi.  Karena kali itu dia naik mobil saya, makanya saya berkuasa penuh agar dia mendengarkan saya saja.  Saya bicara padanya agar relaks (santai) saja di mobil.  Saya ajak dia bercakap-cakap ringan tentang apapun yang terlihat di sepanjang jalan yang kami lewati, demi untuk menghilangkan ketegangan.  Saya yakinkan bahwa jika kemungkinan terburuk dia muntah, saya tidak akan marah dan mempermasalahkan mobil yang kotor.  Alhamdulillah, dengan upaya tersebut, si anak nampak bahagia dan yang pasti tidak muntah hingga sampai tujuan. 

Saya merasa menanamkan sugesti positif adalah cara pertama yang layak dilakukan, dibandingkan memberikan obat-obatan penghilang rasa mual.  Efek obat-obatan hanya sesaat, selama di perjalanan saja.  Selanjutnya, mungkin anak-anak akan selalu menganggap naik kendaraan adalah menakutkan.  Pengalaman saya seperti itu saat kecil.  Terkadang situasi menjadi semakin tegang ketika orangtua mulai menyiapkan perlengkapan menangkal mual.  Dan itulah yang seringkali dilakukan orangtua saya saat dulu.

Sugesti atau saran-saran yang positif akan membuat pikiran tenang.  Otomatis otak akan mengirimkan sinyal-sinyal positif agar tubuh tetap stabil selama berkendara.  Saya kurang paham teori ilmiahnya, intinya seperti itu ya, moms, hehe...

2.  Jika memungkinkan posisikan anak di kursi paling depan kendaraan, atau boleh mana saja asalkan pandangan  ke depan kendaraan dapat leluasa terlihat.

Ini adalah langkah yang sering dilakukan oleh orangtua saya semasa kecil dulu, dan cukup efektif untuk mengurangi rasa pusing.  Barangkali secara psikologis, pandangan yang leluasa dapat melepaskan perasaan yang seakan tertekan dalam ruang kendaraan yang terbatas.  Selain itu, saat melewati jalanan yang berliku, duduk di posisi depan adalah yang terbaik.

3.  Ingatkan anak, jangan melawan arah laju kendaraan.

Maksud pernyataan di atas adalah membiarkan badan kita mengikuti arah laju kendaraan.  Misalnya, mobil berbelok ke arah kiri, biarkan tubuh pun bergoyang ke kiri, begitupun arah sebaliknya.  Saya lupa teori alasannya, tetapi cara ini dikemukakan oleh seorang guru Biologi saya semasa SMA.  Dan cara tersebut selalu saya praktekkan, dan Alhamdulillah efektif.  Semula saya sering melakukan cara sebaliknya, saat kendaraan yang saya tumpangi menikung ke belokan yang seakan bisa membuat saya pusing, saya akan lawan arah itu sekuat tenaga.  Hasilnya justru malah semakin tidak karuan, Moms, hehe...

4.  Sediakan obat-obatan dan makanan pengurang rasa mual dan pusing.

Meskipun di awal saya katakan jangan mengandalkan obat-obatan, namun sebagai cadangan kita tetap perlu menyediakannya ya, Moms.  Namun, sebaiknya siapkan ini tanpa sepengetahuan si anak, untuk mengurangi ketegangan sebelum perjalanan.  Selain obat-obatan, juga makanan atau buah-buahan yang dianggap bisa mengurangi mual, misalnya buah salak.  Permen pun juga bisa menjadi pilihan, namun pastikan tidak berlebihan ya, Moms.

Itulah beberapa cara yang bisa Moms coba lakukan kepada buah hati Anda saat dan hendak bepergian.  Mungkin tidak serta merta langsung efektif, namun yakinkan diri Anda dan buah hati bahwa setiap perjalanan pasti membawa manfaat dan kebahagiaan.  Misalnya, bepergian untuk silaturahmi, pasti membawa manfaat terjalinnya persaudaraan yang semakin baik.  Sehingga meskipun harus mabok perjalanan, InsyaAllah tidak akan selamanya.  Roda kan selalu berputar ya, Moms, hehe...

Semangat melakukan perjalanan, sehat selalu!!!



Najiyyatul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar